Leena berdiri di tengah pusaran energi spiritual yang mulai menghilang, napasnya masih terengah oleh efek peningkatan ranah yang luar biasa. Tubuhnya terasa ringan, hangat, dan penuh daya. Untuk sesaat, ia menutup matanya, menikmati setiap gelombang kekuatan yang mengalir di meridian dan dantiannya. Peningkatan ini bukan hanya fisik, tetapi menyentuh dasar kesadarannya.

Tak ada lagi suara selain detak jantungnya sendiri. Namun ingatannya terlempar ke dalam percakapan dengan Yan Ruyan, sesaat sebelum mereka mulai berlatih.

"Dewi... benarkah aku bisa mencapai ranah Immortal secepat ini? Bukankah butuh waktu puluhan bahkan ratusan tahun?" tanyanya saat itu dengan nada ragu.

Yan Ruyan hanya tersenyum ringan, lalu berkata dengan nada tenang, "Tempat ini terlalu miskin akan sumber daya. Di alam surgawi, Immortal hanyalah permulaan. Banyak anak-anak keluarga besar yang bahkan belum mencapai usia dua puluh telah mencapai ranah itu. Mereka dibesarkan dengan pil, formasi, dan energi murni sejak dalam kandungan. Dunia kecil tanpa cukup sumber daya seperti ini hanya membuatmu terlambat, bukan tidak mungkin."

Leena menunduk saat itu, sorot matanya menggelap. "Tapi aku... aku mulai berlatih baru beberapa tahun, dan tidak punya sumber daya apa pun. Tidak teknik, tidak juga warisan..."

Yan Ruyan menatapnya lekat-lekat. "Tubuhmu berbeda. Kau memiliki tubuh yang di idam idamkan banyak kultivator. Bakat spiritualmu langka, dan meski terlambat, jalanmu akan lebih cepat daripada kebanyakan orang. Itu sebabnya kamu bisa mencapai grandmaster dengan cepat, bukan hanya karena kekuatan yang aku berikan. Namun ingat, untuk melangkah ke ranah yang lebih jauh, kau harus meninggalkan dunia ini. Alam surgawi adalah satu-satunya tempat untuk itu."

Kini, berdiri di bawah air terjun dunia kecil, Leena menghela napas panjang. Senyuman tipis tersungging di wajahnya. Ia telah menembus ranah Immortal. Bahkan jika kekuatannya belum bisa disandingkan dengan Lynx, ia kini cukup kuat untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya padanya.

Saat ia membuka matanya, pandangannya langsung menangkap sosok Lynx yang berdiri tidak jauh darinya, menatapnya tanpa berkedip. Mata pria itu penuh ketenangan, namun juga menyiratkan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

"Lynx?!" serunya terkejut. Ia buru-buru berlari mendekat, lalu berhenti dan menunduk cepat. Wajahnya memerah.

"I-Ini... aku tidak sadar..."

Lynx tidak menjawab segera. Ia hanya menatapnya dalam diam, memandangi tubuh Leena dari kaki hingga kepala, lalu mengangkat sudut bibirnya. "Kau terlihat sangat cantik... Semakin seksi menggoda, terutama dalam keadaan telanjang seperti ini."

"Eh?!"

Leena buru-buru melihat ke bawah. Baru saat itu ia sadar bahwa tubuhnya sepenuhnya terbuka, tak tertutup selembar kain pun. Wajahnya berubah merah padam. Ia segera membalik badan, tangan gemetar menutupi tubuhnya dengan panik.

"Aku... aku sungguh tidak menyadari..."

Dengan cepat ia mengeluarkan pakaian dari cincin penyimpanan, lalu mengenakannya dengan gerakan tergesa dan kikuk. Begitu selesai, ia berdiri membelakangi Lynx, jubah biru keunguan berkilau lembut membalut tubuhnya. Napasnya belum stabil, pipinya masih merah merona. Meski Lynx sering menyentuh tubuhnya dan suka memandangi tubuhnya, namun dia tetap merasa malu saat di lihat secara langsung seperti itu.

Lynx tertawa pelan, lalu melangkah perlahan mendekat. "Syukurlah hanya aku yang melihat. Tapi katakan... bagaimana kau bisa menembus ranah Immortal secepat ini?"

Leena menenangkan napasnya, lalu menjawab tanpa menoleh. "Aku... hanya beruntung. Saat bermeditasi, aku merasa seperti ada sesuatu yang menyatu dengan kesadaranku. Sebuah warisan teknik, mungkin. Aku tidak terlalu yakin."

Ia memilih untuk tidak mengungkapkan keberadaan Yan Ruyan di laut kesadarannya. Meskipun ia percaya Lynx, namun instingnya mengatakan bahwa lebih baik merahasiakan hal tersebut, setidaknya untuk saat ini.

Lynx hanya mengangguk. Ia memang merasakan sesuatu yang berubah sejak ia membersihkan dunia kecil ini dari sisa energi iblis. Ia telah menggunakan batu kristal naga dari Planet Surya untuk membentuk formasi perputaran Qi, membuat dunia kecil ini lebih kaya energi spiritual, agar rekan-rekannya bisa melatih diri dengan baik. Tapi ia tak menyangka Leena menyerap hampir seluruh Qi spiritual yang tersedia.

"Itu sebabnya dunia ini tiba-tiba kehabisan Qi?" tanyanya sambil tersenyum geli.

Wajah Leena kembali tertunduk, rasa bersalah muncul di wajahnya. "Maaf... aku tidak bermaksud. Aku benar-benar tidak sadar bisa menyerap sebanyak itu..."

Namun Lynx mengulurkan tangan, menggenggam jemari Leena dengan lembut. "Kau tidak perlu minta maaf. Aku senang kau bisa tumbuh secepat ini. Itu jauh lebih penting bagiku."

Leena menatap wajah Lynx, lalu mengangguk pelan. "Terima kasih..."

"Ayo, waktunya menemui Lala." Lynx menarik tangan Leena dengan perlahan.

"Lala sudah sadar? Syukurlah. Aku sangat merindukannya," ucap Leena sambil tersenyum cerah.

Mereka berdua segera terbang menembus kabut tipis yang mulai menyelimuti kembali dunia kecil yang kini hampir kosong dari Qi. Di belakang mereka, jejak cahaya dari proses peningkatan ranah Leena masih tampak samar di udara.

Dengan kemampuan spiritualnya, Lynx langsung melacak posisi Lala yang sedang bersama Isha dan Jelita, tak jauh dari rumah kecil yang dahulu ia bangun khusus untuk Isha. Dalam hitungan tarikan napas, mereka tiba di lembah itu.

"Lala!" teriak Leena begitu melihat sosok temannya.

Lala yang sedang duduk, langsung berdiri dan menoleh. Senyum lebarnya muncul, lalu ia membuka tangannya.

Leena berlari memeluknya erat. "Aku merindukanmu!"

"Leena!" seru Jelita sambil ikut memeluk mereka berdua. Isha pun ikut mendekat, memeluk dari samping.

Keempat perempuan itu saling berpelukan erat. Air mata haru mengalir di pipi mereka, melepaskan rindu yang telah lama tertahan.

Namun kebahagiaan itu hanya bertahan sekejap.

Suara tegas Lynx menghentikan kebersamaan mereka. "Cukup. Belum saatnya kita larut dalam kebahagiaan. Kita masih harus menyelamatkan Kael dan yang lainnya."

Leena memutar tubuh dengan cepat. "Apa yang terjadi dengan Kael?"

Lala menjawab singkat, "Mereka terjebak di ruang dimensi lain."

Lynx melanjutkan, "Tapi Lala sudah menemukan cara untuk menolong mereka. Sekarang, kita harus bertindak cepat."

Mereka berlima langsung menyatukan fokus, dan hanya dengan satu langkah ringan, mereka telah berpindah tempat tanpa harus melewati gerbang dimensi. Kini mereka berada di pinggiran hutan, wilayah utara kerajaan Jinghai.

Lala segera mengeluarkan alat berteknologi tinggi dan mulai membaca fluktuasi medan energi. Jemarinya cepat mengetik pada layar transparan yang tampak seperti artefak asing bagi dunia ini.

"Lynx, sejak kapan Lala punya alat seperti itu?" bisik Leena sambil menyipitkan mata.

"Kami mengambilnya dari kota Hesperis. Kami kembali kesana karena Lala mengatakan bisa membukanya dengan peralatan yang dia punya," jawab Lynx pelan.

"Lynx, berdirilah di titik itu. Mulai alirkan energimu seperti yang kujelaskan!" seru Lala tiba-tiba, tanpa berpaling.

Lynx segera bergerak dan berdiri di posisi yang di tunjukkan Lala dengan gugup karena mereka hanya memiliki satu kesempatan, Ia memejamkan mata dan mulai menyalurkan kekuatan sakti dari dantiannya mengendalikan aliran energi agar tetap stabil. Cahaya lembut mulai menyelimuti titik pusat.

Di sisi lain, Lala mengamati alatnya dengan serius. Cahaya di layar berubah dari biru menjadi ungu, lalu perlahan memutih.

"Sedikit lagi... stop!" teriaknya mendadak.

Lynx segera menghentikan aliran energi. Dalam sekejap, dari kunci dimensi yang tergenggam di tangannya, keluar cahaya putih tipis. Cahaya itu berputar lalu membentuk pusaran sempurna, membuka sebuah portal ke dimensi yang tertutup.

Lynx bersiap melompat masuk.

Namun sebelum langkahnya berpijak, tiga sosok tiba-tiba muncul dari dalam cahaya. Tubuh mereka tampak luka-luka, pakaian robek, namun wajah mereka penuh kebahagiaan.

"KAEL!" seru Leena nyaring.

Kael, Arkha, dan Narendra melangkah keluar dengan napas berat namun mata bersinar. Mereka tertawa kecil, wajah penuh lega.

"Kami berhasil! Kami kembali!" kata Kael sambil tersenyum lebar.

Narendra menyeringai. "Untung kalian membuka gerbang tepat waktu."

Arkha mengangguk pada Lynx. "Kau datang di saat yang tepat... kami hampir kehabisan tenaga."

Kael lalu berkata dengan cemas, "Tapi... Rira masih di dalam. Kami terpisah darinya. Tolong, tolong selamatkan dia."

Leena, Jelita, dan Lala sontak bertanya bersamaan, "Rira? Dia bersama kalian?"

Kael mengangguk cepat. "Dia tahu lokasi suku Surya. Tapi kami kehilangan jejaknya didalam sana. Lynx... tolong dia."

Namun Lynx tidak bergerak, tidak merespon.

Matanya perlahan menyipit, tubuhnya diam membeku. Sesuatu dalam dirinya merasakan ketidakwajaran. Sebuah firasat buruk menyelusup ke dalam pikirannya. Pikirannya mulai memutar ulang semua kejadian yang baru saja mereka alami.

"Ada yang tidak beres..." gumamnya lirih.

